Kamis, 18 Desember 2008

Istiqomah

Oleh Sarmidi Husna

Kata istiqomah memiliki kata dasar yang sama dengan qoma (قام ); berarti egak lurus dan iqomah (إقامة ) tanda dimulainya (penegakan) solatt jama’ah. Karena iu istiqomah sering diartikan dengan teguh hati, taat azas atau konsisten. Istiqomah adalah tegak di hadapan Allah atau tetap pada jalan yang lurus dengan tetap menjalankan kebenaran dan menunaikan janji baik yang berkaittan dengan dengan ucapan, perbuatan, sikap dan niat. Dengan kata lain, istiqomah adalah menempuh jalan shirohol mustaqim dengan tidak menyimpang dari ajaran Allah.

Mengapa istiqomah ?
Telah menjadi sunatullah bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti tidak lepas dari cobaan dan rinttangan hidup, karena memang hidup itu sendiri, baik sukses-berunung atau tidak adalah cobaan. Hal ini sebagai mana firman Allah swt : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS. 2:155). Namun dalam menghadapi cobaan ini ada yang m,erasakan ringan dan etap tidak tergoda, teapi ada yang merasa berat terdorong untuk melanggar.
Pada saat-saat seperti itulah, seseorang diuji keimanannya. Salah satu cara untuk mempertahankan iman itu adalah dengan cara istiqomah. Bahkan setiap muslim dituntut untuk istiqomah dalam keimanannya dengan sebenar-benarnya dan sesempurna-sempurnanya istiqomah.istiqomah yang sempurna dan benar yaitu benar dan lurus, konsisten dengan teguh hati dalam setiap ucapan, perbuatan dan tujuan.

Unuk beristiqomah tentu tidak mudah dan bahkan sangat sulit. Hal ini sebagai mana sabda Rasulullah : Istiqomah, dan kalian tidak akan menjangkaunya…(HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majjah). Namun untuk memperoleh hikmahnya secara optimal dan pahala yang besar, istiqomah adalah jalannya. Dalam sebuah ujaran berbahasa arab dikatakan bahwa الإستقامة خير من ألف كرامة (istiqomah itu lebih baik dan utama dari seribu karomah). Untuk itulah, maka diperlukan kesungguhan lahir (jihad dan ijihad) dan batin (mujahadah) dengan tetap waspada dengan berbagai macam dan bentuk rayuan dan godaan. Setiap muslim dituntut untuk menjaga sikap istiqomah ini.

Kapan istiqomah ?
Istiqomah diperlukan pada setiap saat, masa dan keadaan. Istiqomah akan sangat diperlukan ketika erjadi perubahan seperti yang kita hadapi bersama dalam keseharian; pemilu, promosi jabatan, empat kerja dan lain-lain. Karena pada saat perubahan, biasanya banyak godaan. Istiqomah juga bisa diartikan dengan tidak kompromi dengan hal-hal yang negative, seperi suap, menerima sumbangan dari korupsi dan lain-lain.
Yang perlu dicatat adalah bahwa isiqomah tidak idenik dengan stagnasi dan statis, melainkan lebih dekat dengan stabilitas dan dinamis. Sebagai perumpamaan adalah kendaraan bermotor; semakin tinggi tehnologi suatu mobil, maka semakin mampu dia melaju dengan cepat anpa guncangan. Mobil yang demikian berarti memiliki stabilitas aau istiqomah. Mobil dikatakan stabil, bukan berarti berhenti, tetapi jusru ketiaka dia melaju dengan cepat. Oang yang istiqomah akan terlihat keika ia berinteraksi dengan berbegai kalangan dalam segala cuaca dan keadaan yang ia alami.
Orang yang istiqomah, ibarat mobil yang stabil dalam perjalanan dan perubahan yang cepat. Ia akan tetap tenang, konsisten tidak goyah, apalagi akut oleh lajunya perubahan dan keadaan. Hal ini sesuai dengan janji Allah.

Sayyid Qutub menulis bahwa paling tidak ada tiga hal yang dikandung oleh pernyataan ayat 16-17 di atas, yaitu pertama, adanya hubungan yang sangat erat antara konsisensi suatu uma melaksanakan tuntunan agama dengan dengan kesejaheraan lahir dan batin serta factor-fakor penyebabnya. Kedua, kesejahteraan merupakan ujian Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bersabar dalam menikmati kesejahteraan lebih sulit dari pada bersabar dalam kesempian. Karena kesejahteraan sering menjadikan orang lupa daraan dan kesempitan mengundang orang untutk mengingat uhan. Ketiga, berpaling dari peringaan Allah dapat mengantar kepada ujian Tuhan berupa limpahan rizki yang mengundang jatuhnya siksa. Dengan kaa lain, peningkatan kesejahteraan atau rizki yang dibarengi dengan pengabaian nilai-nilai Ilahi akan mengakibatkan peningkattan siksa. Dalam perspektif ini kita dapat mengulas, mengapa negara-negara yang mayritas muslim dan alamnya makmur, tapi miskin dan tertinggal seperti Indonesia.

Suatu ketika Rasulullah saw ditanya oleh salah seorang shahabatnya : “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkaaan dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan lagi kepada orang selainmu ? maka beliau menjawab : Ucapkanlah aku beriman, kemudian beristiqomahlah kamu”.(HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar